Kamis, 22 November 2012

Profile Rumah Sehat Al-Iman

Lembaga ini bergerak dibidang thibbun nabawi, yaitu sebuah sistem pengobatan atau penyembuhan berlandaskan kepada sunnah Rasulullah saw. Sistem penyembuhan dengan metode ini meliputi berbagai aspek diri manusia, fisik dan psikis. Terapi yang dijalankan dilembaga ini meliputi terapi ruqyah syar'iyyah, bekam, herbal (baik lokal maupun yang direkomendasikan oleh Nabi saw), terapi motivasi syari'ah berupa konsultasi dan konseling agama, ditambah dengan terapi-terapi yang tidak bertentangan dengan akidah dan syari'at Islam.
Pada awalnya, lembaga ini bernama Ghoib Ruqyah Syar'iyyah (GRS) Medan sebagai cabang dari GRS Pusat di Jakarta. Dilaunchingkan pada tahun 2005 di gedung Aula Unimed, Medan. Pada tahun 2007, berubah nama menjadi Klinik Thibbun Nabawi Al-Iman dan pada tahun 2008 berubah menjadi Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman sampai sekarang. Tempat praktik Rumah Sehat Al-Iman sejak tahun 2005 sampai 2010 di Jln. Denai dan pada tahun 2010 pindah ke Komp. Perumahan Villa Mulia Sejahtera Blok A no. 6 Jl. Panglima Denai / Jl. Seser III (Kuburan), Amplas-Medan (dekat terminal Amplas).
Keberadaan Rumah Sehat Al-Iman di Medan secara khusus dan di Sumatera Utara secara umum, telah mendapat tempat dihati masyarakat sebagai pusat pengobatan islami yang bebas dari praktik syirik, khurafat dan bid'ah. MUI Sumut pun pernah meminta Ustadz Musdar Bustamam Tambusai, Lc sebagai nara sumber Mudzakarah Ulama di kantor MUI Sumut tentang Ruqyah Syar'iyyah.
Ke depan, lembaga ini akan membuka Sekolah Tinggi Thibbun Nabawi (STTN) Al-Iman, Medan. Mohon doa dan dukungannya. Jika anda ingin terapi atau berobat, datanglah ke alamat kami diatas. Jam praktik setiap hari, mulai jam 09.00 pagi sampai 15.00 sore. Hari Jum'at dan hari besar Islam, tidak membuka praktik di tempat.

Senin, 19 November 2012

Hidayatullah.com - "Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

Hidayatullah.com - "Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

"Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

"Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”
       Masih banyak umat Islam yg memiliki kegandrungan terhadap Yoga, padahal dalam Yoga terdapat ucapan yg mengandung budaya dan ajaran Hindu. Diantaranya adalah kata "Om" yg berarti Tuhan dalam ajaran Hindu. untuk lebih detil silahkan baca tulisan Ustadz Adian Husaini berikut :

Sabtu, 27 Oktober 2012

Thibbun Nabawi : Empat Tahapan Hidup Sehat
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc
(Direktur dan Konsultan Syari'ah Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Medan-Sumatera Utara)

        Kedokteran Nabi saw (thibbun nabawi) merupakan sebuah sistem penyembuhan dan kesehatan yang lahir dari konsep yang berbasis pada hadits-hadits Rasulullah saw yg dikumpulkan oleh ulama hadits pada bab ath-Thibb.Dari hadits-hadits itulah kemudian para ulama yg peduli dengan masalah ini bergerak menjelaskan (mensyarahkan) isi kandungannya dalam sebuah buku yang mereka sebut dengan kitab ath-Thibb an-Nabawi sebagaimana ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Adz-Dzahabi dan lain-lain.
        Kitab Thibbun Nabawi yang ditulis oleh para ulama itu, berdasarkan kepada petunjuk Nabi saw dan sedikit banyaknya dibandingkan pula dengan pendapat dokter-dokter yang terkenal saat itu, baik yang muslim maupun non muslim seperti Galen, Plato dan filosof Yunani lainnya selama tidak bertentangan dengan akidah Islamiyyah.
        Konsep thibbun nabawi dalam penyembuhan berjalan melalui empat tahapan sebagaimana dijelaskan oleh dr. Toha Ali Assegaf dalam bukunya Smart Healing, yaitu :
a. Preventif (Pencegahan sebelum datang penyakit)
b. Kuratif (Pengobatan ketika sakit sudah bersarang)
c. Rehabilitatif (Perbaikan secara maksimal)
d. Promotif (Meningkatkan mutu kesehatan)
      
         Jika ingin mengamalkan konsep thibbun nabawi dalam kehidupan, maka keempat tahapan diatas menjadi sesuatu yang sangat penting diamalkan dan dipraktikkan dalam kehidupan agar mendapatkan manfaat dari thibbun nabawi. Nah, bagaimana cara menjalankan keempat konsep itu menurut thibbun nabawi? Tunggu ulasannya satu persatu.

Selasa, 04 September 2012

Jumat, 31 Agustus 2012

Pembentengan Ilahiyah Dari Gangguan Syaithaniyah
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc (Pengelola Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Medan)

        Untuk melindungi diri sendiri dan keluarga, tidak perlu pakai jimat atau tangkal. Sebagai muslim, kita meyakini bahwa al-Qur'an adalah penyembuh dengan izin Allah swt. Para ulama telah banyak menulis banyak buku panduan untuk meruqyah diri sendiri dan keluarga. Namun, tidak semua orang mampu atau memiliki kemampuan membentengi diri dan keluarganya.
        Syaikh Muhammad ash-Shayim menyebutkan beberapa syarat yang harus dipenuh seseorang agar ia layak memberikan pembentengan yang disebut Syuruuth Ahliyyatut Tahshin. Secara ringkas, syarat-syarat itu antara lain adalah :
1. Keimanan dalam hati (Iman al-Qalb). Iman al-Qalb juga dapat diartikan sebagai keyakinan kuat dalam hati bahwa al-Qur'an memiliki potensi kesembuhan dengan izin Allah swt.
2. Amal Kebajikan (al-Amal ash-Shalih).
3. Selalu Berdzikir dan Selalu dalam Keadaan Suci (adz-Dzikr wa ath-Thaharah).
4. Keikhlasan (Al-Ikhlas).
5. Selalu Membaca al-Qur'an (Tilawah al-Qur'an).
6. Selalu Berlindung kepada Allah swt (al-Isti'adzah).
        Demikian beberapa hal yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ash-Shayim dalam bukunya Al-Munqizh al-Qur'ani.

Selasa, 14 Agustus 2012

Ruqyah dan Fenomena Ust. Guntur Bumi (1)
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc (Pengkaji Thibbun Nabawi di Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Medan)

       Sejatinya, ajaran Islam itu mencerahkan dan menarik simpati masyarakat. Bukan membuat orang jauh dan antipati. Oleh karena itu, ajaran Islam itu sangat jauh dari segala sesuatu yang mengandung unsur kekerasan, penipuan, penyimpangan dan segala sesuatu yang secara manusiawi tidak menenangkan dan tidak menyenangkan.Demikian halnya jika kita berbicara tentang ruqyah syar'iyyah yang diajarkan dalam sunah Rasulullah saw sebagai sebuah metode pengobatan yang sangat berguna untuk mengatasi berbagai macam penyakit, tidak hanya bersifat psikis, gangguan jin atau sihir, tapi juga yang bersifat fisik dan medis.
      Mengenai dalil-dalil kebolehan ruqyah telah disebutkan dalam banyak tulisan, artikel, buku dan sebagainya berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah. Tapi, yang namanya penyimpangan tetap jelas ada dan terjadi sebagaimana dalam masalah lain. Penulis telah menulis dalam buku Buku Pintar Jin, Sihir dan Ruqyah Syar'iyyah beberapa penyimpangan yang sering terjadi dalam praktik ruqyah. Insya Allah, secara khusus penulis akan menerbitkan buku lain yang berjudul Fakta dan Teori : Yang Dibolehkan dan Yang Terlarang Dalam Praktik Ruqyah.
       Lalu, apa hubungannya dengan Ust. Cilik Guntur Bumi (Ucil) yang sekarang lagi heboh dibicarakan diberbagai media. Bukan hanya karena disebabkan praktik ruqyah yang banyak menuai kritikan, tapi juga dari keterlibatan beliau dengan dunia selebritis. Berkaitan dengan itu, penulis memiliki catatan tentang Ucil ini sejak mengetahui sepak terjang beliau didunia pengobatan.
Catatan I : Sebagaimana telah disebutkan, ajaran Islam itu menenangkan dan menyenangkan, menarik simpati dan ramah dengan orang lain. Praktik yang dilakukan Ucil ini, sejak dari acara Pemburu Hantu telah membuat pencitraan buruk terhadap ajaran Islam sehingga membuat orang salah paham tentang ajaran Islam.
Seolah-olah Islam mengajarkan hal yang demikian, padahal praktik seperti itu lebih dekat kepada praktik perdukunan.
Catatan II : Cara meruqyah beliau tidak sesuai dengan syari'at. Ya, sudah pastilah seorang praktisi Pemburu Hantu tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah saw. Dalam praktiknya, beliau tidak menggunakan sarung tangan sehingga kadang harus menyentuh fisik pasiennya yang perempuan secara langsung tanpa alas.
Catatan III : Popularitas yang berlebihan. Beliau tidak menampilkan dirinya sebagai ustadz sebagaimana mestinya dengan sifat tawadu', jauh dari hiruk pikuk dunia hiburan (entertaiment) dan terlalu dekat dengan dunia artis yang glamour. Pastinya, beliau telah masuk kedalam dunia yang tidak seharusnya jauh dari keseharian seorang ustadz yang paham akan bahaya pergaulan seperti itu.

Senin, 30 Juli 2012

Taqwa = Membangun Kekuatan Ruhiyah dan Jasadiyah (Sehat Fisik dan Psikis)
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc (Direktur dan Konsultan Syari'ah Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Komp. Villa Mulia Sejahtera Jln. Panglima Denai Gg. Seser Kuburan (Dekat Terminal Amplas), Medan)

       Ibadah puasa yang diwajibkan Allah kepada umat Islam merupakan sarana untuk menggapai kedudukan tinggi disisi-Nya, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan merupakan bekal menuju kemuliaan yang diinginkan oleh Allah swt.Segala bentuk embel-embel kebanggaan duniawi seperti harta, tahta dan gelar-gelar akademik dan sosial merupakan sesuatu yang bersifat terbatas dalam pandangan manusia. Dalam pandangan Allah swt, semua itu tidak berarti apa-apa.
       Puasa salah satu sarana pembentukan karakter insan bertakwa. Didalam QS al-Baqarah ayat 183, Allah swt berfirman "Wahai orang-orang beriman, telah diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. (Dengan puasa itu) kamu pasti menjadi orang-orang yang bertakwa". Yang patut menjadi catatan adalah kalimat "la'allakum tattaqun" yang - menurut kaidah bahasa Arab - artinya adalah "kamu pasti menjadi orang-orang yang bertakwa". Sebab menurut ulama bahasa Arab, kata "la'alla" jika dipakai dalam Kalamullah (al-Qur'an) artinya li at-tahqiq (pasti) dan jika dipakai dalam kalam hamba li at-tarajji (harapan yaitu mudah-mudahan). Maka akhir ayat itu seharusnya tidak diterjemahkan "mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa" sebab pengertian seperti itu memberikan makna ketidakpastian, hanya sebatas harapan. Harapan itu, bisa tercapai dan bisa juga tidak. Padahal ayat itu firman Allah swt yang menjamin kepastian (li at-tahqiq).
       Nah, pertanyaannya mengapa ketakwaan yang dipastikan Allah swt itu tidak terbukti dalam realita kehidupan umat Islam ? Masih banyak umat Islam yang jauh dari sifat taqwa, padahal mereka dari tahun ke tahun terus menjalankan ibadah puasa. Belum lagi puasa-puasa sunnah setiap minggu (senin-kamis), setiap bulan (puasa ayyamul bidh), setiap sehari sekali (puasa Nabi Daud) dan sebagainya.
       Masalah ini harus didudukkan persoalannya, bukan ayat itu yang salah atau bukan Allah yang berbohong karena hal itu merupakan kemustahilan yang sungguh tidak terbayangkan sedikit pun.Jadi apa masalahnya. Mari kita lihat ayat yang mewajibkan ibadah puasa itu.
       Menurut saya (penulis), ayat ini dapat dipenggal menjadi tiga :
a. Seruan : Ya ayyuhalladzina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman).
       Seruan untuk berpuasa hanya ditujukan kepada orang yang beriman, tidak cukup dengan identitas keislaman saja. Kalau penulis boleh berijtihad, keimanan itu mestinya sudah dipersiapkan sebelum Ramadhan. Mantapkan keimanan dan jauhi segala sesuatu yang merusak dan membatalkan keimanan. Iman bukan sekedar ucapan saja sebagaimana disinggung Allah swt dalam QS al-Ankabut ayat 2 "Apakah manusia mengira bahwa mereka cukup berkata "kami beriman", padahal mereka belum diuji". Disinilah masalahnya, keimanan umat Islam belum teruji. Masih banyak umat Islam yang keimanannya masih setengah-setengah. Terhadap masalah hukum ibadah yang bersifat privat (individu), kita dapat menerimanya dengan lapang dada walaun belum tentu mau melakukannya. Tapi untuk masalah hukum yang bersifat publik (aturan umum), banyak umat Islam yang menolak, mulai dari masyarakat awam sampai kaum intelektualnya. Masih banyak umat Islam yang ragu atau menolak hukum pidana Islam seperti hukum qishas, padahal ayat qishash itu juga dimulai dengan seruan yang sama.
        Belum lagi tradisi-tradisi penyambutan Ramadhan yang banyak bernuansa maksiat, khurafat, bid'ah dan syirik seperti mandi bersama laki dan perempuan, ritual penyambutan terhadap arwah orang yang sudah meninggal yang diyakini kembali kerumahnya disaat bulan Ramadhan, menyuguhkan sesajen untuk arwah itu dan sebagainya. Ada pula yang sifatnya tabdzir (membuang-buang harta dengan sia-sia) seperti beli mercon dan meledakkannya sehingga mengganggu ketertiban umum.
        Jika demikain, maka bagaimana mungkin kita mendapatkan sifat ketakwaan karena fondasi untuk mendapatkannya - yaitu iman - belum kuat.
b. Proses : Kutiba 'alaikumus shiyam (telah diwajibkan kepada kamu berpuasa...dst)
        Proses menuju ketakwaan itu dalam ayat ini dengan cara melaksanakan ibadah puasa. Tentu dalam pelaksanaannya perlu ada aturan main seperti memperhatikan syarat, rukun, hal-hal yang membatalkan puasa dan yang membatalkan pahalanya serta adab-adabnya. Semua itu harus dipelajari dan dipraktikkan dalam pelaksanaannya.Dalam hal ini, masih banyak umat Islam yang menjalankan ibadah puasa secara asal-asalan alias ikut-ikutan tanpa mengerti sedikitpun fiqh puasa.
c. Pasca Ramadhan : La'allakum tattaqun (Kamu pasti menjadi orang yang bertakwa)
        Semua ibadah akan terlihat hasilnya setelah melakukan ibadah tersebut. Shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, haji mabrur akan membuat pelakunya menjadi orang yang benar-benar baik dan puasa melahirkan orang yang bertakwa. Makna takwa itu sendiri bermakna sangat luas dan komplet. Tidak hanya pengertian yang bersifat normatif menurut agama yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, makna takwa juga menyentuh aspek-aspek yang menjadi unsur terbentuknya manusia, yaitu unsur ruhiyah dan unsur jasadiyah.
         Dari aspek bahasa (lughawi), taqwa bermakna perlindungan, pemeliharaan, penjagaan, keterhindaran, tindakan preventif dan kekuatan. Kalimat ini memberikan makna yang sangat luas dan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Orang yang bertakwa itu secara fisik dan kejiwaan sangat kuat dan tangguh menghadapi ujian hidup, ujian ekonomi, ujian politik, ujian setan dan sebagainya.Secara ruhiyah, ia merupakan orang yang sangat taat kepada Allah dan Rasul-Nya, patuh kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan secara fisik dan psikis orang yang bertakwa itu sehat. Ingat, ibadah puasa memiliki manfaat yang sangat besar untuk menyehatkan tubuh dan menyembuhkan penyakit. Ingat pula, puasa itu adalah perisai (junnah) yang selalu melindungi. Taqwa dan puasa sama-sama berkonotasi melindungi, maka jika dilaksanakan dengan baik, umat Islam pasti menjadi umat yang terbaik (khairu ummah).
       Jika penyambutan puasa dilaksanakan dengan dasar keimanan, ibadah puasa pun dijalankan dengan semangat keimanan, maka ketakwaan bukan impian. Masyarakat muslim secara individu dan kolektif pasti menjadi umat yang maju, baik secara ruhiyah dan jasadiyah.

Kamis, 05 Juli 2012

Terapi Qur'ani : Sembuhkan Fisik dan Psikis
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc (Direktur dan Konsultan Syari'ah Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Komp. Villa Mulia Sejahtera no. A-6, Jln. Seser Kuburan, Amplas (dekat terminal Amplas) Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Telp. 061-77379231 / 0813 6131 1154)

      Dalam QS. al-Isra' : 82, Allah swt menjelaskan bahwa al-Qur'an diturunkan sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Beberapa mufassir (ahli tafsir) menjelaskan bahwa kesembuhan yang didapatkan melalui terapi al-Qur'an, bersifat umum. Karena tidak ada pengkhususan bahwa obat yang dimaksud hanya untuk menyembuhkan penyakit tertentu seperti penyakit-penyakit hati sebagaimana diyakini oleh sebagian ulama.Ulama dan pemikir yang meyakini bahwa al-Qur'an mampu menyembuhkan penyakit fisik menyatakan bahwa tidak ada hal yang mustahil bagi Allah swt jika Dia menghendaki sesuatu. Keseluruhan tubuh manusia dan bagian terkecil darinya seperti sel-sel, bekerja atas perintah Allah swt dan mengikuti kehendak-Nya. Ketika Allah swt mengatakan bahwa al-Qur'an itu merupakan obat penyembuh terhadap penyakit fisik, sungguh Allah swt Maha Kuasa untuk melakukannya. 
      Syaikh Ibn Baaz, Syaikh as-Sadhan, Syaikh Usamah ibn Yasin al-Ma'ani, Syaikh Wahid Abdus Salam Bali dan yang lain meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur'an sangat berpengaruh untuk menyembuhkan penyakit fisik dan psikis. Secara ilmiyah, hal itu kemudian dibuktikan oleh para pakar yang memiliki kompetensi dibidangnya seperti Ir. Abdud Da'im al-Kahil dan itu dapat dilihat dalam situs pribadi beliau : kaheel7.com dan buku-buku yang beliau tulis. Seorang dokter muslim dari rumah sakit Florida Amerika Serikat juga telah melakukan ujian dan percobaan yang menunjukkan bukti kebenaran al-Qur'an.
      Hanya saja - kata Syaikh Ibn Baaz - sebagaimana obat pada umumnya, terapi dengan al-Qur'an atau ruqyah syar'iyyah juga memiliki syarat dan pantangan untuk mendapatkan kesembuhan maksimal.Diantara syarat-syarat kesembuhan yang harus dipenuhi adalah :
a. Iman dan keyakinan penuh terhadap kebenaran al-Qur'an, bukan sekedar coba-coba atau ikut-ikutan. Banyak umat Islam yang menjelani terapi ruqyah syar'iyyah dengan memposisikannya sebagai obat alternatif. Padahal al-Qur'an merupakan dasar pengobatan dan rujukan utama yang tidak mungkin ada kesalahan di dalamnya. 
b .Ikhlas. Seorang peruqyah atau penerapi harus ikhlas dalam melakukan pembacaan ayat-ayat al-Qur'an. Pasien juga harus ikhlas dan meniatkan dalam hatinya ketergantungan hanya kepada Allah swt.
c. Ibadah harus maksimal agar kedekatan peruqyah dan pasien dengan-Nya tidak berjarak sehingga doa-doa yang dilantunkan dapat langsung dikabulkan oleh Allah swt.
d. Optimis bahwa Allah swt akan memberikan kesembuhan kepada hamba-Nya  yang mau berupaya secara syar'i. 
e. Dan lain sebagainya. Dapat dilihat dalam buku penulis Buku Pintar, Jin dan Ruqyah Syar'iyyah.
       Sementara pantangannya adalah segala yang berlawanan dengan syarat-syarat diatas. Oleh karena itu, seorang pasien harus dibekali pengetahuan seputar pengobatan qur'ani dan thibbun nabawi jika ia ingin benar-benar sembuh dan memiliki komitmen untuk berubah ke arah yang positif.

     

Minggu, 27 Mei 2012

Ruqyah : Bukan Sekedar Membaca Ayat
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc

       Sekilas, meruqyah itu pekerjaan mudah dan hanya bermodalkan ayat-ayat yang direkomendasikan oleh Rasulullah saw. Lalu, penampilan sedikit dirobah sedemikian rupa agar kelihatan seperti ustadz atau kyai. Fenomena seperti ini sering kita jumpai pada diri orang-orang yang menerjunkan dirinya ke dunia ruqyah "syar'iyyah". Jika kita perhatikan agak serius dan objektif, sepertinya masih banyak yang belum memenuhi syarat. 
       Jika ruqyah syar'iyyah itu hanya bertumpu pada bacaan, saya kira para huffazzh (penghafal al-qur'an) lebih berhak menjadi peruqyah. Tapi - maaf - ternyata para penghafal al-Qur'an pun masih banyak yang perlu diruqyah. Pengalaman penulis ketika belajar di Mesir, ada teman yang sudah hafal 30 juz, ternyata ketika diruqyah mengalami reaksi yang cukup keras. Rupanya, dulu di pesantren ia pernah belajar ilmu-ilmu kesaktian. Pengalaman kedua, sekitar dua minggu yang lalu, seorang santri ma'had tahfizh di Medan mengalami hal-hal aneh pada dirinya sehingga ia minta diruqyah. Penulis yang bukan hafizh, merasa sungkan meruqyahnya karena ternyata santri itu telah hafal 30 juz al-Qur'am. Karena dia sudah tidak tahan, akhirnya penulis meruqyahnya. Apa yang terjadi ? Saat dibacakan ayat-ayat al-Qur'an, tangannya mengeras, suaranya melengking dan air matanya bercucuran. Masya Allah, ternyata penghafal al-Qur'an pun bisa dimasuki setan. Na'udzu billah
        Penulis ingin mengatakan bahwa ruqyah syar'iyyah itu bukan sekedar menghafal ayat-ayat ruqyah dan membacakannya kepada orang yang terindikasi ada gangguan jin atau sihir. Lebih dari itu, seorang peruqyah harus benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan "dunia lain" dan penyakit non medis. Maka, untuk menghadapinya, ada senjata-senjata yang mesti ia persiapkan untuk itu. Senjata itu, antara lain adalah :
a. Ilmu Syar'i. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan seluk beluk agama Islam. Khususnya yang berkaitan dengan akidah islamiyah seperti mendalami masalah ilahiyaat (ketuhanan), nubuwwaat (kenabian), sam'iyyaat dan ruhaniyyaat (alam-alam ghaib).
b. Ilmu Ruqyah. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan seluk-beluk ruqyah, termasuk pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam praktik ruqyah. Penulis sedang menulis buku "Teori dan Fakta : Yang Boleh dan Terlarang Dalam Praktik Ruqyah Syar'iyyah"
c. Ilmu Tentang Jin. Yaitu ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia jin berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. 
d. Ilmu Thibbun Nabawi. Yaitu ilmu yang berkaitan dengan pengobatan yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad saw selain ruqyah syar'iyyah seperti bekam, madu, zaitun dan lain sebagainya.
e. Ilmu Kesehatan Umum. Hal ini diharapkan agar seorang peruqyah juga bersikap objektif dalam melihat keluhan pasiennya. Jangan sampai, gangguan medis divonis sebagai gangguan jin atau sihir. 
        Seluruh ilmu-ilmu yang telah dipelajari dan dikuasai, harus dibuktikan dengan tindakan nyata, yaitu dengan menjaga dan memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Bukan beribadah saja tanpa didasari ilmu. Setan tidak takut dengan ahli ibadah yang kosong jiwanya dari ilmu-ilmu syar'i. Oleh karena itu, seorang peruqyah mesti berupaya memperkaya diri dengan ilmu dan wawasan yang terkait dengan profesinya dan harus membentengi diri dengan ibadahnya.




Sabtu, 19 Mei 2012

Berobat Dengan Al-Qur'an (2)
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc

       Al-Qur'an sebagai obat, jelas disebutkan oleh al-Qur'an itu sendiri dalam banyak ayat dan dikuatkan oleh hadits Rasulullah saw. Namun, umat Islam telah mengabaikan kebenaran wahyu itu sehingga umat lebih percaya kepada konsep yang dibuat oleh manusia. Sungguh, ini kondisi yang sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin Allah swt menjanjikan sesuatu kemudian mengingkarinya ? Dan yang lebih menyedihkan lagi, bagaimana umat yang mengaku sebagai hamba Allah tapi mengabaikan kalam Tuhannya ? Belum lagi konsep kesembuhan yang dijelaskan as-Sunnah, sangat jauh dari praktik penyembuhan dan pengobatan umat Islam. Kedua-duanya (al-Qur'an dan as-Sunnah) dua hal yang saling menguatkan.
       Dua potensi besar yang dimiliki umat Islam sebagai rujukan dan sarana penyembuhan, yaitu ayat-ayat al-Qur'an dan doa-doa Rasulullah saw, tapi ternyata banyak umat Islam yang tidak merasakan manfaat dari keduanya. Mengapa ? Menurut penulis, ada beberapa sebab yang membuat tidak tercapainya tujuan penyembuhan dari al-Qur'an dan as-Sunnah.
- Kurangnya keimanan dan keyakinan terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah saw. Sebagian besar umat menganggap apa yang disebutkan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai solusi penyembuhan, hanya dogma semata, tidak ilmiyah, bahkan mitos.
- Jika pun ada rasa percaya dan yakin terhadap keduanya, tapi dalam praktiknya hanya sekedar coba-coba. Atau penyembuhan dengan al-Qur'an dan thibbun nabawi hanya dilakukan setelah kedokteran modern atau dunia perdukunan gagal menyembuhkannya. Kedua belum dijadikan solusi tapi sekedar alternatif layaknya pengobatan tradisional yang dicap oleh kedokteran Barat sebagai pengobatan alternatif.
- Melakukan terapi qur'ani dan thibbun nabawi tapi aspek yang paling penting lainnya diabaikan yaitu tauhid dan ibadah. Bahkan sering terjadi, banyak orang yang diruqyah tapi setelah itu tidak melaksanakan shalat atau masih menyimpan jimat-jimat dirumahnya. Ini namanya syirik (menyekutukan Allah). Allah swt tidak suka diduakan dengan makhluk-Nya. "Iyyaka nasta'inu"-nya kita mau tapi "Iyyaka na'budu"-nya kita tolak. Kita selalu ingin minta tolong kepada Allah tapi kita tidak mau menyembah-Nya.
        Mari kita perbaiki persepsi kita terhadap terapi qur'ani dan thibbun nabawi, insya Allah akan kita dapatkan manfaat yang sangat luar biasa dari mu'jizatnya, yaitu mu'jizat al-Qur'an. Wallahul Musta'an.

      

Selasa, 08 Mei 2012

Berobat Dengan Al-Qur'an (1)
Oleh : Musdar Bustamam Tambusai, Lc 
 
       Bagaimana kita berobat dengan al-Qur'an, sedangkan ia merupakan kitab akidah dan hukum, bukan kitab kedokteran atau buku pengobatan ? Apa yang dimaksud dengan ayat-ayat penyembuh ? Apakah kita dapat menyembuhkan penyakit-penyakit fisik dan psikis dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur'an ? Kemudian, apakah dunia medis modern telah menemukan aspek ilmiyah bahwa al-Qur'an itu dapat memberikan efek kesembuhan ? Dan masih banyak pertanyaan lain yang berkaitan dengan pengobatan dengan menggunakan bacaan al-Qur'an.
       Melalui pengalaman saya sejak tahun 2005 yang silam sebagai terapis ruqyah di Ghoib Ruqyah Syar'iyyah Cabang Medan dan sekarang di Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman Jln. Seser Amplas, Medan ditambah dengan bacaan saya terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan terapi qur'ani dan thibbun nabawi, saya mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa ibadah-ibadah yang kita lakukan sehari-hari (termasuk tilawah al-Qur'an) memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kesehatan dan juga pengobatan. Secara pribadi saya telah merasakan bahwa jika setiap kali kita membaca al-Qur'an dengan niat ibadah dan kesembuhan, sungguh hal itu saya rasakan dampaknya yang positif bagi kesehatan. Begitu pula dengan ibadah-ibadah lain seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
      Sebagian pakar mengatakan bahwa fungsi ibadah-ibadah itu sebagai faktor penyembuhan suatu penyakit hanya bersifat preventif. Tapi menurut saya, hal itu juga dapat menyembuhkan penyakit ketika penyakit telah bersarang dalam diri seseorang. Oleh karena itu, kita membuktikan bahwa ibadah-ibadah dalam Islam itu bukan hanya doktrin belaka tapi juga sebuah fakta ilmiyah untuk kebaikan umat Islam secara khusus dan umat manusia secara umum.
      Setiap ibadah memiliki manfaat secara ruhiyah (psikis/mental) dan manfaat secara fisik. Jika seorang muslim yang beriman melakukan ibadah yang diwajibkan oleh Allah swt kepadanya dengan baik, maka ia akan memperoleh daya tahan tubuh (immunity) yang kuat untuk melawan penyakit, baik penyakit fisik maupun kejiwaan. Disinilah kita akan melihat bukti keilmiyahan al-Qur'an sebagai obat. (Bersambung)

 
        Assalamu'alaikum warahmatullahi barakatuh. Selamat Datang di Blog ini. Mari berbicara dan berdiskusi tentang thibbun nabawi disini, khususnya terapi ruqyah syar'iyyah dan bekam. Saya berharap banyak masukan dan saran untuk pengembangan blog ini kedepan sehingga benar-benar menjadi rujukan masyarakat untuk mencari kebenaran Islam pada aspek pengobatan Islam.
        Selamat membaca ......!!!