Jumat, 28 Maret 2014



Cara Mengobati Penyakit ‘Ain
          Setelah mengetahui siapa yang menyebabkan penyakit ‘ain melalui metode “ittiham”, maka terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan si pasien adalah :
a. Ruqyah Syar’iyyah. Pada umumnya ruqyah untuk penyakit ‘ain, tidak berbeda dengan ruqyah secara umum. Semua ayat al-Qur’an dan doa-doa kesembuhan adalah ruqyah untuk penyakit ‘ain yang dimaksudkan untuk kesembuhan dan untuk mendakwahi jin yang mengganggu.
b.      b. Mandi. Pelaku ‘Ain (al-‘Aa’in) memandikan orang yang terkena penyakit ‘ain. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah ibn Sahal ibn Hunaif – radhiyallahu ‘anhu – katanya “’Amir ibnu Rabi’ah melewati Sahal ibn Hunaif yang sedang mandi. Lalu ia berkata “Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini dan (tidak pernah kulihat) kulit bagus yang tersimpan baik (seperti kulit gadis pingitan, pen.)”. Tidak berapa lama, terjatuhlah Sahal. Kemudian Nabi saw membawanya dan dikatakan kepadanya “Selamatkanlah Sahal yang sedang terbaring sakit”. Rasulullah saw berkata “Siapakah yang kamu curigai menyebabkan ini ?”. Mereka menjawab “Amir ibn Rabi’ah !”. Rasulullah saw berkata “Atas dasar apa salah seorang kalian ingin membunuh saudaranya ?. Apabila salah seorang diantara kalian melihat pada saudaranya sesuatu yang mengagumkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya”. Kemudian Rasulullah meminta air, lalu menyuruh ‘Amir berwudhu’ dengannya. Amir mencuci wajahnya, kedua tangannya sampai siku, kedua lututnya dan bagian dalam sarungnya. Rasulullah saw menyuruhnya menyiramkan bekas air itu kepada Sahal. Berkata Sufyan : “Berkata Ma’mar dari Zuhri [Beliau memerintahkannya untuk menyiramkan air dari arah belakangnya] (HR. Ibnu Hibban).
c.       c. Menggunakan sisa atau bekas yang pernah bersentuhan dengan pelaku ‘ain.
Sisa atau bekas orang yang menyebabkan ‘ain itu berupa segala sesuatu yang pernah bersentuhan dengannya seperti air liur dan keringatnya. Karena yang diinginkan adalah aroma / bau orang yang menyebabkan ‘ain tersebut untuk mengusir setan yang menguasai korban ‘ain. Misalnya, yang diambil adalah sisa-sisa makanannya, sisa minumannya atau apa yang pernah bersentuhan dengan fisiknya seperti pegangan pintu yang pernah disentuhnya, walaupun sekali. Itu sangat berguna dalam proses penyembuhan korban ‘ain. Semua sisa-sisa atau bekas yang pernah bersentuhan dengannya dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air, lalu dimandikan kepada yang terkena penyakit ‘ain tersebut. Jika berbentuk sisa makanan atau minuman, maka sebaiknya dimakan atau diminum sebagaimana layaknya.
           Cara-cara ini merupakan kesimpulan dari apa yang telah ditulis para ulama dan praktisi ruqyah syar’iyyah berdasarkan dalil-dalil yang shahih dan berdasarkan pengalaman mereka.

Minggu, 09 Juni 2013

Hati-hati Kitab Perdukunan : Syamsul Ma'arif

KEJANGGALAN KITAB SYAMSUL MAARIF: Di kalangan masyarakat awam, sering kita melihat tulisan yang disebut Rajah, Wafaq ataupun Isim. Setiap bentuk dan tulisan pada benda te...

Kamis, 22 November 2012

Profile Rumah Sehat Al-Iman

Lembaga ini bergerak dibidang thibbun nabawi, yaitu sebuah sistem pengobatan atau penyembuhan berlandaskan kepada sunnah Rasulullah saw. Sistem penyembuhan dengan metode ini meliputi berbagai aspek diri manusia, fisik dan psikis. Terapi yang dijalankan dilembaga ini meliputi terapi ruqyah syar'iyyah, bekam, herbal (baik lokal maupun yang direkomendasikan oleh Nabi saw), terapi motivasi syari'ah berupa konsultasi dan konseling agama, ditambah dengan terapi-terapi yang tidak bertentangan dengan akidah dan syari'at Islam.
Pada awalnya, lembaga ini bernama Ghoib Ruqyah Syar'iyyah (GRS) Medan sebagai cabang dari GRS Pusat di Jakarta. Dilaunchingkan pada tahun 2005 di gedung Aula Unimed, Medan. Pada tahun 2007, berubah nama menjadi Klinik Thibbun Nabawi Al-Iman dan pada tahun 2008 berubah menjadi Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman sampai sekarang. Tempat praktik Rumah Sehat Al-Iman sejak tahun 2005 sampai 2010 di Jln. Denai dan pada tahun 2010 pindah ke Komp. Perumahan Villa Mulia Sejahtera Blok A no. 6 Jl. Panglima Denai / Jl. Seser III (Kuburan), Amplas-Medan (dekat terminal Amplas).
Keberadaan Rumah Sehat Al-Iman di Medan secara khusus dan di Sumatera Utara secara umum, telah mendapat tempat dihati masyarakat sebagai pusat pengobatan islami yang bebas dari praktik syirik, khurafat dan bid'ah. MUI Sumut pun pernah meminta Ustadz Musdar Bustamam Tambusai, Lc sebagai nara sumber Mudzakarah Ulama di kantor MUI Sumut tentang Ruqyah Syar'iyyah.
Ke depan, lembaga ini akan membuka Sekolah Tinggi Thibbun Nabawi (STTN) Al-Iman, Medan. Mohon doa dan dukungannya. Jika anda ingin terapi atau berobat, datanglah ke alamat kami diatas. Jam praktik setiap hari, mulai jam 09.00 pagi sampai 15.00 sore. Hari Jum'at dan hari besar Islam, tidak membuka praktik di tempat.